26 Januari 2008

Artikel Kejujuran = Teori Kejujuran

Artikel di bawah ini saya temukan ketika browsing di jagat maya. Saya lupa asalnya. Namun karena saya rasa bagus maka saya simpan di blog ini untuk dibaca lagi suatu saat nanti. Saat ini (Mei 2012) saya kembali membuka artikel yang saya simpan tahun 2008 ini dan tersenyum sendiri mengingat baru saja saya baca percakapan Rosa Manullang dan Angie di tahanan yang intinya Rosa meminta Angie untuk jujur saja karena toh semua akan terbuka juga suatu saat nanti... Ohya, perlu dicatat bahwa tidak hanya Angie yang terindikasi berbohong, namun banyak sekali tokoh yang terindikasi terperangkap dalam situasi "harus" berbohong seperti itu. Teori kejujuran sangat mudah diucapkan dan ditulis, namun sangat susah diamalkan. Oleh sebab itu karena susahnya manusia jujur, Allah mesti mengancam ketidakjujuran dengan neraka dan sebaliknya kejujuran dijanjikan surga...  
  

   Sesungguhnya keimanan dan kejujuran selalu berjalan beriringan. Keimanan tidak akan dapat bersatu dengan dusta. Rasulullah SAW pernah ditanya, ''Apakah mungkin seorang mukmin itu pengecut?'' Lalu dijawab, ''Mungkin.'' Lalu ditanyakan lagi, ''Apakah mungkin seorang mukmin itu kikir?'' Lalu dikatakan, ''Mungkin.'' Lalu ditanyakan lagi, ''Apakah seorang mukmin itu berdusta?'' Lalu dijawab, ''Tidak mungkin.'' (HR Imam Malik). 
   Allah berfirman, ''..Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur itu karena kejujurannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya.'' (QS Al-Ahzab: 24). Dari ayat ini, sesungguhnya Allah mengajarkan kita bahwasanya siapa pun yang menghabiskan umurnya untuk berbohong, maka pada akhirnya ia hanya akan menjadi orang yang munafik. 
   Sesungguhnya keimanan dilandasi dengan kejujuran. Sedangkan kemunafikan dilandasi dengan kebohongan. Dengan demikian, tidak mungkin keimanan dan kebohongan bercampur dan berasimilasi dalam satu hati yang sama. Rasulullah bersabda, ''Sesungguhnya kejujuran akan mendatangkan ketenangan; sedangkan kebohongan akan mendatangkan keraguan.'' (HR Tirmidzi). 
   Kita pun mungkin tak asing mendengar kata-kata bijak, ''Katakanlah suatu kebenaran walaupun menyakitkan.'' Terkadang seseorang berbohong karena suatu kepentingan. Namun, disadari atau tidak, pada saat ia melakukan suatu kebohongan, maka kecemasan akan datang menghantuinya. Cemas apabila kebohongannya terbongkar. Cemas apabila orang akan mencelanya sebagai seorang pembohong dan beragam kecemasan lainnya. Rasululah SAW bersabda, ''Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan. Kebaikan menuntun kepada jalan menuju surga. Apabila seseorang berlaku jujur dan konsisten dengannya, maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang jujur. Sesungguhnya kebohongan menuntun kepada keburukan dan keburukan menuntun kepada jalan menuju api neraka. Apabila seseorang berbohong, maka Allah akan mencatatnya sebagai pembohong.'' (HR Bukhari). 
   Sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Seseorang yang awalnya terpaksa berbohong, namun bila ia melakukannya terus-menerus, maka hal itu akan melekat pada dirinya dan menjadi tabiat hidupnya. Inilah yang harus diwaspadai. Sesungguhnya kebohongan hanya membawa pelakunya kepada banyak permasalahan. Umar ibn Abdul Aziz berkata, ''Demi Allah, tak sekalipun aku pernah berbohong lagi sejak kutahu bahwasanya kebohongan hanya membawa masalah bagi.

2 komentar:

  1. manusia tidak aja yang tidak berbohong...

    namun jika mereka mau mengatakan...kebohongan mereka..

    Allah jg akan memaaf kan hambanya yang mau berkata benar..

    dan memohon ampun padanya...

    Bagus...bngt...tuh artikelnya....

    from ipit_cupu.....^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada kok yang jujur : Nabi SAW.
      jujur memang mudah ditulis dan diucap, namun sangat berat dilaksanakan, oleh sebab itu pelaku kejujuran dijanjikan surga..

      Hapus